Pendidikan Hingga Sekolah
Masalah pendidikan
Pernah gak sih teman-teman berpikir selama sekolah hal apa yang paling penting (bagi kalian yang masih sekolah) atau berguna saat ini (bagi yang sudah tidak menjalani pendidikan atau sedang menempuh pendidikan tinggi). Seperti kenapa SD harus 6 tahun, SMP harus 3 tahun, SMAjuga 3 tahun, kenapa? Kenapa ada pelajaran yang sama setelah SMP ke SMA.
Belakangan penulis sadar bahwa penulis melakukan kesalahan ketika menempuh pendidikan dulu, yaitu mengkuti apa yang diajarkan sekolah dengan cara menghapal, saat itu sekolah menuntut untuk menghapal apapun yang di ajarkan, baik itu rumus, sejarah, undang-undang dan mungkin yang lainnya. Waktu itu saya kurang bisa menghapal, tidak tahu untuk apa menghapal, saya tidak paham mengenai hal itu.
![]() |
| Ilustrasi oleh Ghon disunting oleh Tim Baka |
Teman-teman pernah merasakan sekolah kan? Paling tidak pernah TK dan SD. Sekarang banyak TK yang mempersiapkan para siswanya untuk menempuh jenjang pedidikan selanjutnya, melatihnya baca tulis dan berhitung. Hmm, kalian pasti berpikir, ya bagus lah anak-anak menjadi lebih siap menempuh pendidikan selanjutnya, guru akan lebih mudah dalam mengajar siswanya karena mereka sudah bisa baca tulis dan bahkan mungkin berhitung.
Tetapi yang menjadi masalah adalah, jenjang pendidikan selanjutnya yang diasumsikan adalah keliru. Misalnya, sekarang ini kebanyakan SD mengadakan tes baca tulis terhadap siswanya untuk bisa diterima di SD tersebut, atau paling tidak pengajaran di SD mengharuskan untuk bisa baca tulis, dan jika tidak bisa maka akan di hukum atau menjadi bahan tertawaan bagi siswa lain atau bahkan guru dan para orang tua.
Tentu semasa TK pasti akan disapkan untuk memasuki SD. Dan karena awam atau bagaimana orang tua malah mengamini dengan mengusulkan untuk mengajarkan baca tulis ketika anaknya pada masa TK, atau memilih TK yang mengajarkan baca tulis dan berhitung. TK yang harusnya menjadi taman bermain anak, eksplorasi lingkungan, bersosialisasi, menjadi tempat pelatihan untuk masuk SD.
Tulisan kali ini mungkin akan membahas seputar keresahan penulis sendiri terhadap bererapa pengalaman menempuh pendidikan hingga sekarang. Dan penulis baru tersadar setelah kuliah, bahwa pendidikan yang dialami oleh penulis dulu-dulu terdapat beberapa hal yang seharusnya kurang pantas untuk pata dikatakan sebagai pendidikan yang sesuai.
Selama menjalani kuliah, penulis sempat mendapatkan mata kuliah mengenai pendidikan, dan dari sini mulai tergambar berbagai masalah dalam dunia pendidikan. Hal ini menjadikan kepudulian penulis terhadap pendidikan semakin meningkat. Meskipun belum banyak peran yang kita lakukan, saya dan teman yang sama-sama peduli dengan pendidikan banyak berdiskusi mengenai masalah pendidikan.
Pendidikan itu apa? Sekolah itu apa?
Apakah pendidikan itu penting? Bagaimana kita tahu bahwa pendidikan penting jika kita tidak paham pendidikan itu apa? Harunsnya kita tahu alasah bahwa pendidikan itu penting, dan kenapa bisa penting. Jangan-jangan pendidikan itu bersifat netral, dan hanya sebuah alat untuk mencapai suatu tujuan, dan penting atau tidaknya tergantung dari tujuan tersebut.
Kita tahu bahwa pendidikan dan sekolah merupakan dua term yang berbeda arti. Sekolah merupakan bagian dari pendidikan, sehingga sekolah adalah salah satu hal yang berperan dalam mencapai tujuan pendidikan, dan pendidikan bukan hanya dari sekolah. Istilah populer pendidikan bisa dibedakan menjadi 3, formal, non formal, dan informal. Menurut UU No. 20 Tahun 2003, pendidikan non formal dan formal agak dibedakan. Menurut UU tersebut, pendidikan formal adalah pendidikan dengan sistem yang terstruktur dan berjenang yang dibedakan menjadi pendidikan dasar, menengah dan tinggi. Sedangkan pengertian pendidikan non formal merupakan pendidikan diluar pendidian formal yang bisa terstruktur dan berjenjang. Melihat dari definisi “terstruktur dan berjenjang” maka penulis menyimpulkan bahwa dua jenis pendidikan ini berupa sekolah (meski tidak semua non formal berupa sekolah).
Sehingga yang dimaksud sekolah merupakan dua jenis pendidikan tersebut, sekolah formal dan sekolah non formal (penulis memahami sekolah non formal yang dimaksud mungkin sekolah keterampilan atau sekolah vokasi dan sejenisnya), sedangkan keseluruhan pendidikan bukan hanya itu, ada pendidikan informal, bersosial membangun masyarakat yang mungkin tidak ada dalam pelajaran sekolah. Sekolah akan menjadi penting ketika sejalan dengan tujuan pendidikan yang sangat mendasar, mengembangkan potensi manusia.
Mari kita kilas balik, potensi apa sih yang dikembangkan selama SD, SMP atau SMA (penulis tidak memasukkan SMK karena menurut penulis SMK memang sudah fokus pada suatu kemampuan tertentu, sehingga skill yang di bangun sudah jelas). SD mungkin dasar dan pengenalan sosial, pelajaran umum, sejarah umum, dan hal-hal lain yang umum. Bagaimana setelah SD? Kenapa pelajaran-pelajaran banyak diulang? Kemampuan apa yang dibentuk, apa hanya untuk banyak menghapal? Itu menjadi pertanyaan bagi saya.
Disisi lain kadang masyarakat banyak lupa bahwa pentingnya sekolah bukan menjadi satu hal yang sangat penting dan melupakan hal lain dari tujuan pendidikan itu sendiri. Dugaan ini muncul karena masyarakat mungkin malas berpikir pendidikan itu untuk apa? Yang jelas dipikiran mereka adalah pendidikan membawa kesuksesan, yang penting sekolah dapat ijasah lalu bisa kerja, untung bisa jadi PNS. Sehingga tujuan akhirnya adalah ijasah bukan skill atau kemampuan sebagaimana yang disebutkan dalam UU tersebut dan lupa subjek yang belajar siapa.
Pendidikan itu penting, apakah Sekolah juga?
Setelah banyak berdiskusi mengenai pendidikan, penulis jadi mengingat “iya ya sekolah dulu nggak begitu berperan banyak dalam hidup saya, yang ada malah pengalaman-pengalaman pahit dibully”, pelajaran-pelajaran sekolah juga tidak begitu banyak diingat, banyak hal yang tidak paham dan banyak mengikuti remidi hingga menjadi langganan remidi.
Akhinrya menurut penulis sekolah jadi tidak berperan banyak dalam mengembangkan kemampuan dan potensi diri yang ada di dalam peserta didik/siswa. Jika begitu maka sekolah bisa jadi memang tidak penting. Menurut penulis yang berperan adalah kegiatan sosialnya, interaksi antara siswa satu dengan yang lain, keterlibatan dalam organisasi seperti OSIS dan yang lainnya atau bergabung dalam suatu klub atau ekstrakulikuler, bukan pada kegiatan belajar mengajarnya (jika materi yang diajarkan adalah hafalan).
Teman-teman pernah membaca buku “Mengapa Siswa Gagal” karya John Holt. Buku tersebut merupakan sebuah catatan atau jurnal John Holt selama dia mengajar 2 dekade dari tahun 1960an. Karena berupa catatan atau jurnal akhirnya tulisannya tidak tematik, dibedakan dengan tema umum tetapi tetap berupa catatan-catatan yang dibedakan sesuai dengan tanggal, bulan dan tahun. Sehingga saya langsung ke bab kesimpulan, memang hal ini harusnya baca dari awal sehingga tahu seluk beluk dinamika pengalaman mengajarnya menghadapi setiap anak yang diajar dan lain sebagainya. Tetapi dengan kesimpulan harunsnya mencerminkan apa keseluruhan isi yang dibahas.
John Holt menyoroti bahwa banyak perkembaangan intelektual anak-anak terganggu dikarenakan kekerasan terhadap anak. Banyak data mengenai kekerasan yang terjadi selama kegiatan belajar mengajar yang terjadi di Amerika. Dia mencontohkan ada anak TK yang belum mengerti tentang peraturan dilarang berbicara (mungkin berbicara yang kurang baik) ketika dia berbicara tersebut langsung dihardik oleh gurunya dan di olok-olok di depan siswa yang lain. Padahal sebelumnya belum pernah ada yang bilang kepadanya untuk tidak bicara seperti itu. Bagi teman-teman yang ingin mendalami, saya sangat merekomendasikan buku ini.
Dari buku tersebut ada satu hal umum yang penulis dapatkan mengenai inti dari pendidikan, yaitu bagaimana pendidikan membuat siswa merasa butuh dan perlu untuk belajar sesuai dengan keinginannya, itu yang tidak ada di sekolah sekarang. Kebanyakan kegiatan di sekolah dipukul rata, pembelajarannya cenderung hapalan yang sangat banyak dan bagi sebagian beasr anak menjemukan (penulis menyebut “bagi sebagian besar anak” karena mungkin saja ada juga anak yang suka sekali dengan hapalan), belajar sejarah atau pkn pun menghapal yang pada dasarnya pun tidak perlu dihapalkan. Alangkah akan lebih menarik jika pelajaran tersebut diisi dengan materi megnenai analisis sejarah yang mempelajari tentang bagaimana sejarah dikumpulkan, atau tentang sistem pemerintahan yang belajar mengenai bagaimana pemerintah dijalankan, sehingga akal pikiran anak juga berkembang.
![]() |
| Ilustrasi oleh Ghon disunting Tim Baka |
Melihat berbagai hal tersebut, rasanya sekolah perlu ada perombakan, mulai dari kesesuaian dengan tujuan pendidikan yang mengembangkan potensi, hingga masalah yang terjadi di masyarakat atau kebutuhan masyarakat. Bukan karena apa yang orang dewasa inginkan, tetapi dari anak yang akalnya berkembang dan bisa membaca masalah dan memecahkanya atau membaca kebutuhan dan memenuhi kebutuhan tersebut. yang harunsya dipecahkan. Sehingga tugas pendidikan atau sekolah adalah mengantarkan atau mendampingi agar anak berkembang atau menggali potensinya sendiri bukan dengan paksaan apalagi kekerasan yang menyebabkan anak takut untuk belajar, atau belajar karena takut.
Ide untuk menjadikan sekolah menjadi bagian penting dari pendidikan
Dengan begitu seharusnya sekolah dibuat fun, atau menyenangkan. Jika suasana menyenangkan, belajar bukan menjadi beban bagi anak. Anak akan fokus dalam mengembangkan potensinya, guru fokus pada masing-masing anak yang mungkin potensinya berbeda-beda. Peran sekolah ditambah, bukan hanya sebagai edukasi bagi anak tetapi juga orang tua, orang tua juga harus di ajari bagaimana mendidik anak dengan baik. Sekolah disini harusnya mempunyai posisi ini, bukan malah mengikuti apa keinginan para orang tua, dan orang tua lepas dalam peran pendidikan terhadap anaknya.
Dari situ penulis menyadari bahwa, anak terdidik harusnya yang aktif dalam mengembangkan potensinya. Sehingga peran pendidikan mengantakan anak kepada tahapan tersebut, membuat anak aktif dan menyadari apa potensinya dan mengembangkannya sesuai dengan keinginan anak tersebut. Mulai dari situ muncul pikiran “nah ini”. Dari pikiran tersebut muncul ide membangun sekolah (jika sekolah masih tetap seperti dulu dan tidak ada upaya untuk mengubah hal tersebut).
Tapi ternyata butuh banyak sekali instrumen pendukung untuk mewujudkannya, bagaimana infrastruktur dan segala elemen pendukung lainnya. Kita ini sedang membicarakan pengembangan potensi, sehingga kita juga harus memikirkan bagaimana potensi-potensi itu bisa berkembang, fasilitas pendukung juga harus disiapkan. Bayangkan bahwa banyak potensi yang ada disana, bukan hanya anak jago di matematika saja yang mungkin hanya butuh infrasruktur papan tulis. Bagaimana jika ada anak yang pandai di bidang olahraga basket, atau yang lain, tentu instrumenya sangat banyak. Akhirnya berujung pada keputusan untuk mulai dari yang kecil terlebih dahulu yaitu daycare (penitipan anak) atau playground (tempat bermain). Harapannya dengan itu kita bisa mengitegrasikan pendidikan, antara orang tua dengan anak dan lembaga pendidikan dengan anak maupun orang tua. Dengan pertimbangan masa-masa kecil sangat berpengaruh terhadap kehidupan selanjutnya.
Itulah beberapa keresahan yang muncul di pikiran penulis, dan beberapa ide yang hadir sebagai solusi untuk menyelesaikan inti permasalahan yang terjadi. Inti dari solusi atas segala pendidikan adalah membuat pendidikan menjadi fun atau menyenangkan. Mengajak anak untuk semangat belajar, mengembangkan kemampuannya secara mandiri dan aktif atas keinginan anak. Tetapi mungkin ide tersebut tentu tidak bisa langsung diterapkan, karena penulis sadar bahwa mengajar adalah teknis, ide di atas hanya sebatas konsep menjadikan pembelajaran menyenangkan, tentu perlu didetailkan dan disesuaikan dengan kebutuhan untuk bisa diterapkan. Sekian.
Kotetsu


Komentar
Posting Komentar
Silakan masukan uneg-unegmu, dan lakukanlah terjun payung karna saya juga ingin terjung payung.