Ada Apa dengan Kelas 4 SD?
Halo teman-teman, pembaca setia Baka Writings, pada kesempatan kali ini penulis hendak bercerita mengenai pengalaman penulis selama mengamati dan mendampingi anak-anak. Menurut penulis, hal ini sangat menarik untuk dibahas, karena adanya pola unik dalam perilaku anak-anak. Namun sebelum memasuki pembahasan, tulisan ini akan memiliki dua seri. Seri pertama adalah artikel ini, yang membahas murni berdasarkan pengamatan dan fenomena yang penulis temui di lapangan. Untuk seri berikutnya akan mengupas hasil pengamatan tersebut menggunakan sudut pandang ilmu pengetahuan. Tujuannya adalah memahami fenomena-fenomena yang diamati secara lebih sistematis dan menyeluruh.
Teman-teman yang memiliki adik kecil atau yang sedang bergelut dengan dunia pengasuhan anak anak, pasti merasa bahwa adik kecil tersebut berbeda sekali setelah melalui kelas 4 SD. Ada yang merasa adiknya lebih pendiam, merasa lebih aktif, atau merasa lebih bandel. Apakah benar demikian? Yuk simak ulasan penulis berikut.
Contoh ketika mengajari Veru (nama asli disamaran) untuk menjahit, awalnya ia tidak bisa menjahit, tetapi setelah dicontohkan, ia menjawab, “Mengerti kak!”. Padahal dalam prakteknya ia masih kesulitan, tetapi ketika hendak dibantu, ia bersikeras menolak dan ingin menemukan sendiri solusinya. Dan akhirnya setelah ia berhasil, menjahit menjadi aktivitas refreshing yang ditunggu-tunggunya.
Bagi anak-anak yang merasa percaya diri dengan kemampuannya, perilaku menuntut perhatiannya cenderung berupa mempertunjukkan hal-hal yang positif. Namun bagi anak-anak yang cenderung merasa tidak bisa apa-apa, cenderung menginginkan perhatian dengan perilaku apapun. Baik itu melalui perilaku yang baik sampai perilaku yang dianggap kurang baik oleh komunitas.
Pada suatu sesi belajar bersama hari itu, anak-anak cenderung bersemangat untuk bermain bersama teman-temannya. Sehingga ketika sesi belajar sudah dimulai, mereka tetap asyik dengan permainannya. Bahkan setelah diingatkan berkali-kali olah kakak pembimbing. Waktu itu karena penulis sedang capek, sehingga sedikit emosional. Alih-alih marah kepada adik-adik yang bermain, penulis hanya menghela nafas panjang dan diam mematung mengamati mereka. Tiba-tiba anak-anak kelas 4 mulai menghampiri dan bertanya, “kak, kakak lagi marah ya?”.
Beberapa anak kelas 4 lainnya dengan inisiatif sendiri langsung menegur adik-adiknya yang bermain-main dan tidak mengikuti instruksi kakak pendampingnya. Bahkan mereka juga berani menegur kakek kelas yang bermain HP dan tidak mengikuti sesi belajar dengan baik.
Berdasarkan fenomena ini, penulis mengamati perbedaan dalam berempati pada anak kelas 4 SD. Berbeda dengan anak yang lebih kecil, mereka lebih terfokus pada kedirian dan kesenangan mereka. Berbeda pula dengan anak yang lebih tua, meskipun mereka tahu, mereka memilih untuk mengabaikan. Tetapi anak-anak kelas 4 SD ini selain tahu, mereka juga bertindak. Kepekaan tidak hanya ditunjukkan secara emosional dan kognitif, tetapi juga melalui tindakan.
Untuk sesi berikutnya, kita akan mencoba mengupas fenomena-fenomena yang penulis amati tadi berdasarkan ilmu pengetahuan terkait, sehingga kita bisa lebih utuh memahami fase perkembangan anak dan mampu menentukan sikap yang lebih tepat dalam mendampingi anak. Terima Kasih.
-Mera Viola-
Teman-teman yang memiliki adik kecil atau yang sedang bergelut dengan dunia pengasuhan anak anak, pasti merasa bahwa adik kecil tersebut berbeda sekali setelah melalui kelas 4 SD. Ada yang merasa adiknya lebih pendiam, merasa lebih aktif, atau merasa lebih bandel. Apakah benar demikian? Yuk simak ulasan penulis berikut.
1. Fase anak-anak memiliki segudang teman
Rata-rata anak kelas 4 SD yang penulis temui memiliki lingkar pertemanan yang lebih luas. Baik pertemanan yang sebaya maupun pertemanan dengan kakak kelasnya. Penulis contohnkan, si Nata (nama asli disamarkan) yang awal lingkar pertemanannya hanya sebatas teman-teman di sekitar rumahnya, setelah kelas 4 SD ia memiliki teman di desa sebelah. Sejak saat itu hampir banyak wajah-wajah baru yang dikenalkannya. Padahal sebelumnya ia sangat pilih-pilih teman sekali, sehingga tidak banyak teman yang ia miliki.2. Fase anak merasa mampu melakukan apapun
Memakai sepatu, membersihkan kamar, dan meletakkan piring ke wastafel, yang awalnya dikerjakan oleh orang lain, kini tiba-tiba bersikeras untuk mengerjakannya sendiri. Tidak hanya itu, ketika kita sebagai pengasuhnya mencoba mengintervensinya, maka anak akan ngambek dan tidak mau mengerjakannya.Contoh ketika mengajari Veru (nama asli disamaran) untuk menjahit, awalnya ia tidak bisa menjahit, tetapi setelah dicontohkan, ia menjawab, “Mengerti kak!”. Padahal dalam prakteknya ia masih kesulitan, tetapi ketika hendak dibantu, ia bersikeras menolak dan ingin menemukan sendiri solusinya. Dan akhirnya setelah ia berhasil, menjahit menjadi aktivitas refreshing yang ditunggu-tunggunya.
3. Fase anak merasa aku adalah pusat segalanya
Ketika memiliki adik kecil atau mengasuh anak-anak, siap-siap mereka akan lebih menuntut perhatian dari kalian (para pengasuhnya). Bentuk perilakunya bermacam-macam, seperti ingin di dahulukan dibandingkan yang selainnya, ingin selalu dilibatkan dalam segala aktivitas, ingin selalu mendapatkan apresiasi atau momen bareng, unjuk diri di depan pengasuhnya dengan berbagai macam cara, dan lain sebagainya.Bagi anak-anak yang merasa percaya diri dengan kemampuannya, perilaku menuntut perhatiannya cenderung berupa mempertunjukkan hal-hal yang positif. Namun bagi anak-anak yang cenderung merasa tidak bisa apa-apa, cenderung menginginkan perhatian dengan perilaku apapun. Baik itu melalui perilaku yang baik sampai perilaku yang dianggap kurang baik oleh komunitas.
4. Fase anak menjadi peka
Tidakkah kalian merasa, ketika ada perubahan emosi dalam diri kalian, adik-adik yang kelas 4 lebih cepat merespon atau menghibur kalian daripada anak-anak yang lebih muda atau lebih tua?Pada suatu sesi belajar bersama hari itu, anak-anak cenderung bersemangat untuk bermain bersama teman-temannya. Sehingga ketika sesi belajar sudah dimulai, mereka tetap asyik dengan permainannya. Bahkan setelah diingatkan berkali-kali olah kakak pembimbing. Waktu itu karena penulis sedang capek, sehingga sedikit emosional. Alih-alih marah kepada adik-adik yang bermain, penulis hanya menghela nafas panjang dan diam mematung mengamati mereka. Tiba-tiba anak-anak kelas 4 mulai menghampiri dan bertanya, “kak, kakak lagi marah ya?”.
Beberapa anak kelas 4 lainnya dengan inisiatif sendiri langsung menegur adik-adiknya yang bermain-main dan tidak mengikuti instruksi kakak pendampingnya. Bahkan mereka juga berani menegur kakek kelas yang bermain HP dan tidak mengikuti sesi belajar dengan baik.
Berdasarkan fenomena ini, penulis mengamati perbedaan dalam berempati pada anak kelas 4 SD. Berbeda dengan anak yang lebih kecil, mereka lebih terfokus pada kedirian dan kesenangan mereka. Berbeda pula dengan anak yang lebih tua, meskipun mereka tahu, mereka memilih untuk mengabaikan. Tetapi anak-anak kelas 4 SD ini selain tahu, mereka juga bertindak. Kepekaan tidak hanya ditunjukkan secara emosional dan kognitif, tetapi juga melalui tindakan.
5. Fase anak mulai tertarik dengan orang lain
Siap-siap akan ada poster-poster, barang-barang koleksi, atau pencarian youtube dipenuhi tentang idola tertentu. Kelas 4 SD menjadi awal bagi mereka untuk mulai mengenal lebih jauh tentang orang lain, terutama orang-orang yang diidolakan. Mereka tidak lagi mudah percaya dari apa yang orang lain sampaikan, tetapi mereka berusaha mengetahui sendiri melalui sumber yang mereka anggap kredibel. Tidak hanya idolanya, tetapi juga teman dan kakak pendampingnya. Mereka akan berusaha untuk mengenal orang terdekatnya lebih mendalam. Mulai dari hal-hal sederhana seperti dimana tempat tinggalnya, apa makanan favoritnya, atau apa yang dilakukan ketika hari libur, dan lain sebagainya sesuai tingkat keingintahuan mereka.Konklusi
Itu tadi adalah pola-pola interaksi unik yang penulis amati dan alami selama membina anak-anak kelas 4 SD. Menurut penulis anak-anak usia kelas 4 SD ini memiliki perilaku yang berbeda dari anak-anak usia dibawahnya, namun belum memiliki ciri sebagai anak usia remaja atau pubertas. Hal ini yang menjadikan masa-masa kelas 4 SD ini unik untuk diamati. Dan percaya atau tidak, pengalaman anak-anak selama kelas 4 SD ini akan sangat berpengaruh kuat terhadap perkembangannya di masa-masa yang akan datang.Untuk sesi berikutnya, kita akan mencoba mengupas fenomena-fenomena yang penulis amati tadi berdasarkan ilmu pengetahuan terkait, sehingga kita bisa lebih utuh memahami fase perkembangan anak dan mampu menentukan sikap yang lebih tepat dalam mendampingi anak. Terima Kasih.
-Mera Viola-

Komentar
Posting Komentar
Silakan masukan uneg-unegmu, dan lakukanlah terjun payung karna saya juga ingin terjung payung.