Revisi tulisan - Salahkan Diri Sendiri


Sebenarnya saya ini bingung mau nulis, karena pada dasarnya web ini dibuat untuk latihan nulis ya akhirnya saya nulis, tapi tentu gak bisa dong asal nulis. Makanya ada aturan untuk menulis dengan logis, oleh karena itu ada revisi.

Untuk itu maka sebelum saya masuk membenarkan tulisan saya, saya ingin membangun sketsa pembahasan terlebih dahulu.
  • Membahas mengenai salahkan diri sendiri dan jangan salahkan orang lain, latar belakangnya adalah itu.
  • Tentu saya melihat mengapa hal ini perlu dibahas, makanya saya ingin mencari masalah yang kira-kisa salah dari konsep tersebut.
  • Sebenarnya saya ingin mengarahkan pembaca ke arah mana to, kemudian saya mikir, sebenarnya tidak perlu menyalahkan diri sendiri ataupun orang lain dong, kita harus rasional menghadapi kenyataan, kalo memang salah yang bilang salah, kalo benar yang bilang benar dong.
  • Mulai dari situ saya melihat titik terang tulisan ini akan dibawa kemana.
Sehingga terima kasih untuk masukan yang diberikan oleh penulis lain kepada saya, saya akhirnya menyadari hal di atas. Sehingga revisi tulisan:

Ada seseorang yang memberikan pernyataan atau bahkan perintah atau larangan, mengapa begitu kita simak ingatan saya mengenai kata-kata yang diucapkan oleh beliau:
"Nggak usah menyalahkan orang lain daripada menyalahkan orang lain, diri kita sendiri ini lho salahkan"
Nggak tentu kalimat larangan,
Kata daripada merupakan kata sambung pembanding. Dari kalimat tersebut kita dapat mengetahui bahwa yang dibandingkan adalah kegiatan menyalahkan orang lain dan kegiatan menyalahkan diri kita sendiri. Dari sini kita dapat mengetahui bahwa orang tersebut melarang menyalahkan orang lain dan menyarankan atau bahkan memerintahkan untuk menyalahkan diri kita sendiri.

Secara benar dan salah tentu dapat diukur. Suatu dikatakan benar secara sederhana bermakna bahwa apa yang dikatakan sama dengan kenyataan yang ada, maka hal tersebut benar secara objektif. Tapi juga ada orang yang menganggap bahwa itu benar padahal kenyataannya hal tersebut berbeda dengan apa yang dikatakannya maka pernyataan orang ini dapat dikatakan sebagai pernyatan yang salah. Apa dasarnya dia mengatakan benar. Ukuran benar dan salah harusnya diukur dengan objektif.

Berbeda dengan ukuran subjektif, dalam melakukan pengukuran, ukuran subjektif tidak berbicara bahwa hal ini sesuai dengan fakta atau tidak. Penilaian ini terikat dengan individu, dan setiap individu dapat dipastikan memiliki perbedaan, misal tokoh kartun yang dibenci adalah Spongebob, yang satu lagi bicara tokoh yang paling dibenci adalah Upin-Ipin. Jika keduanya tidak menjelaskan kenapa Spongebob atau Upin-Ipin di benci tentu akan sulit untuk menemukan titik temu tanpa perselisihan.

Jika ada penjelasan secara objektif tentu kedua pihak akan saling memahami mana yang benar dan yang salah, misal ternyata Spongebob dibenci karena absurd (kayak penulis) sedang Upin-Ipin memberikan nilai-nilai pengajaran yang baik bagi anak-anak sehingga seharusnya orang tidak membenci Upin-Ipin dong...

Tetapi di sisi lainnya orang membenci Upin-Ipin karena Upin-Ipin tidak menggunakan bahasa Indonesia dan menggunakan Bahasa Melayu. Ternyata orang ini membenci orang-orang Malaysia, sehingga dia membenci produk-produk Malaysia.

Seharusnya bisa di dudukkan antara yang benar dan yang salah, yang baik dan yang buruk, nilai manfaat yang banyak dan nilai yang manfaat yang kurang. Okelah, dapat kita misalkan bahwa ternyata setelah dinilai bahwa nilai kebaikan atau manfaat dari Spongebob lebih sedikit dibandingkan dengan Upin-Ipin tentu secara objektif dapat dikatakan bahwa Upin-Ipin lebih baik daripada Spongebob.

Tetapi apa hal, ternyata orang tersebut pada dasarnya benci dengan Malaysia sehingga ketika orang tersebut diberikan penilaian seperti ini dia akan merasa mengelak dan berusaha untuk menyalahkan Upin-Ipin atau bahkan yang lain ikut terbawa, misal menyalahkan stasiun televisi yang menayangkan Upin-Ipin, menyalahkan Pemerintah yang memperbolehkan tayangan Malaysia tayang di Indonesia, atau bahkan mungkin saja menyalahkan pihak-pihak lain yang bahkan tidak ada hubungannya sama sekali.

Sehingga bagaimana? apakah seseorang harus menyalahkan diri sendiri solusinya? Kalo diri kita benar kenapa harus menyalahkan orang lain? Kenapa tidak boleh menyalahkan orang lain kalau orang lain memang terbukti salah? Dosa dong kita kalau membenarkan yang salah? Apa nggak lebih dosa lagi kalau kita tahu kita salah tapi malah bilang kita benar? Jawaban-jawaban itu tentu akan muncul jika seseorang Rasional dan Objektif, orang tidak akan menemukan jawaban jika sedari awal sudah menutup diri dengan perasaan benci atau perasaan inferior yang berlebihan (menganggap bahwa diri kita salah - menyalahkan diri kita sendiri).

Sebenarnya tindakan orang yang menyalahkan diri sendiri tidak dapat  dibenarkan karena menyalahkan diri sendiri menutup kemungkinan untuk terjawabnya benar dan salah, dan hal tersebut dapat dilakukan jika seseorang terbuka dan berpikir secara Rasional dan Objektif terhadap fakta.

Saran/perintah dari orang yang ada di radio tersebut harusnya tidak demikian, memang niatannya mungkin baik untuk menghindari pertikaian yang tidak penting seperti masalah perdebatan Spongebob dan Upin-Ipin, tapi efek dari ini akan menyebabkan toleransi terhadap kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh seseorang. Maka bagaimana baiknya? Menurut penulis posisi yang baik adalah kita berada dalam posisi netral, tidak dalam perasaan cinta dan benci, kita terbuka terhadap berbagai fakta, dan mendudukkannya secara berimbang kemudian rasional dalam mengolah fakta.

Tidak harus menyalahkan diri sendiri atau orang lain. Jika memang perlu kita sampaikan bahwa kita salah dan dia benar, ya kita sampaikan dan vice versa (Begitu pula sebaliknya). Kalo tidak perlu disampaikan ya sudah, yang penting kita tahu benar dan salahnya.

Begitu revisi dari tulisan saya, mungkin masih ada kekurangan, dan saya meminta teman-teman untuk menyampaikan kesalahan atau kekurangan itu kepada saya sebagai bentuk masukan.

Terima kasih.

Saya: Kotetsu - "You are moving by habit. You're not making decision after watching your opponent's movements. That's why nothing's working for you. Get it? Point is, you have no foundation."

ありがとうございました。

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berhadapan dengan Monster

Petani Kopi Bisa Apa

Pemula Tidak Bisa Membuat Makanan Lezat?