Dukung Pemerintah
Masalah Masyarakat
Saya di sini akan menyampaikan bahwa saya ukan bermaksud menjelekkan pihak manapun, saya hanya ingin berbagi pengalaman dan masukkan kepada pihak terkait atau mungkin membuka diskusi untuk mencari solusi bersama atas masalah yang terjadi yang akan saya ceritakan ini.
Beberapa hari yang lalu saya mengikuti sosialisasi, sosialisasi yang diadakan oleh pihak pol PP di daerah sekitar. Sebenarnya saya tidak ada keinginan karena pasti (asumsi saya sendiri) sosialisasi ini tidak akan ada tindak lanjutnya, terlebih lagi orang yang memberikan rekomendasi (maksa sih sebenarnya) untuk mengikuti kegiatan ini mengatakan bahwa “sudahlah ikut aja, orang-orang itu hanya menghabiskan anggaran”. Walah kok malah begini (balas dalam batin saya meski orang tersebut adalah orang yang memiliki jabatan di lingkungan sekitar).
Tentu perilaku orang yang merekomendarikan ini tidak dapat dibenarkan dong. Bagaimana seorang perangkat mewajari bahwa hal yang dilakukan oleh pemerintah daerah sekitar (tingkat Kabupaten/Kota), tentu hal ini mencerminkan juga perilakunya sebagai pejabat di lingkungan sekitar dong (tingkat Desa/Kelurahan), hal ini berarti orang tersebut sebenarnya tahu bahwa kegiatan ini tidak memiliki impact atau dampak yang besar dalam pembangunan suatu daerah tapi anggaran di hamburkan.
Tidak cukup itu, tentu orang-orang pemerintahan tahu lebih banyak dong mengenai keseharian bahkan budaya orang-orang yang bekerja sebagai pelayan masyarakat ini dong, tapi malah bilang “Undangannya kan jam 10, berangkat jam 10 aja, biasanya acara-acara seperti itu akan mundur dari waktu yang ditentukan”, walah lha kok tambah parah (batin saya lagi).
Beberapa hari yang lalu saya mengikuti sosialisasi, sosialisasi yang diadakan oleh pihak pol PP di daerah sekitar. Sebenarnya saya tidak ada keinginan karena pasti (asumsi saya sendiri) sosialisasi ini tidak akan ada tindak lanjutnya, terlebih lagi orang yang memberikan rekomendasi (maksa sih sebenarnya) untuk mengikuti kegiatan ini mengatakan bahwa “sudahlah ikut aja, orang-orang itu hanya menghabiskan anggaran”. Walah kok malah begini (balas dalam batin saya meski orang tersebut adalah orang yang memiliki jabatan di lingkungan sekitar).
Tentu perilaku orang yang merekomendarikan ini tidak dapat dibenarkan dong. Bagaimana seorang perangkat mewajari bahwa hal yang dilakukan oleh pemerintah daerah sekitar (tingkat Kabupaten/Kota), tentu hal ini mencerminkan juga perilakunya sebagai pejabat di lingkungan sekitar dong (tingkat Desa/Kelurahan), hal ini berarti orang tersebut sebenarnya tahu bahwa kegiatan ini tidak memiliki impact atau dampak yang besar dalam pembangunan suatu daerah tapi anggaran di hamburkan.
Tidak cukup itu, tentu orang-orang pemerintahan tahu lebih banyak dong mengenai keseharian bahkan budaya orang-orang yang bekerja sebagai pelayan masyarakat ini dong, tapi malah bilang “Undangannya kan jam 10, berangkat jam 10 aja, biasanya acara-acara seperti itu akan mundur dari waktu yang ditentukan”, walah lha kok tambah parah (batin saya lagi).
Saya sebenarnya malas untuk berangkat karena awalnya emang tidak mau dan tidak tertarik dengan kegiatan yang seperti ini, perkataan dari orang yang merekomendasikan untuk ikut tersebut saya acuhkan (embuh terserahmu aku pakai caraku sendiri). Saya memiliki keinginan untuk datang tepat waktu dong. Paginya saya sudah siap untung berangkat tetapi karena bawaanya malas karena pada akhirnya kegiatan ini adalah untuk menghabiskan anggaran (atau tidak ada niat yang sungguh sungguh untuk mewujudkannya, hanya karena untuk hidup/uang/harta) saya yang sudah siap untuk berangkat 45 menit sebelumnya karena saya asik melakukan kegiatan lain akhirnya molor menjadi 20-15 menit sebelum waktu undangan.
Akibat dari itu, saya berusaha untuk cepat dan segera mungkin untuk berangkat pada saat itu juga, karena saya sudah siap, saya akhirnya ngebut di jalan dan tiba di tempat tujuan lebih dari 1 menit (atau tepat waktu saya tidak tahu), pikir saya telat dong, saya buru-buru memarkin kendaraan dan langsung registrasi. Dalam registrasi diminta untuk melakukan pengisian nama dan tanda tangan, tapi di sini ada keanehan, saya menuliskan satu nama tapi beberapa tanda tangan itu ada 2 bendel sehingga saya tulis 2 nama tapi tanda tangannya banyak dan lembar tanda tangan tertutup, hanya ada nomor-nomor saja, sehingga kop atau judul lembarnya tidak kelihatan (pada saat itu saya tidak perhatikan dengan detail karena saya buru-buru karena pikir saya telat).
Sampai di area atau dalam gedung memang sudah terlihat ramai tetapi semuanya dibelakang. Karena ruangan yang terbatas bentuk kursi dibagi menjadi 4 bagian, depan/tengah menghadap ke depan, kiri dan kanan, menghadap ke depan/tengah, dan belakang menghadap ke depan. Orang-orang sudah nampak berada di bagian kiri dan kanan dan belakang, tapi depan/tengah masih lenggang. Karena saya menghindari keramaian, dan pada saat itu kursi yang tidak ramai adalah berada di bagian depan/tengah pembicara maka saya pilih disitu selain itu saya pilih bagian belakang karena dibelakang kursi saya ada kipas angin yang memberikan angin sejuk ke punggun saya, sehingga nyaman.
Setelah saya duduk selama sekitar 5 menit (atau mungkin kurang, ndak tau), kemudian berdatangan orang-orang, kemudian ada orang yang duduk di samping saya, kemudian saya sadar, saya dari tadi belum lihat jam (entah lupa karena di awal psikologis saya mengatakan saya telat sehingga buru-buru) kemudian saya lihat sumaho saya waktu menunjukan waktu acara lebih dari 4 menit, tapi acara juga belum dimulai.
Setelah itu waktu berjalan dan para tamu – peserta juga sudah mulai berdatangan, akhirnya acara dimulai pada sekitar lebih dari 30 menit dari waktu yang ditentukan saat acara sudah mulai saya melihat jam waktu telah lewat 34 menit dari waktu yang ditentukan. Rangkaian acara pun dimulai, tapi ini aneh rangkaian acara tanpa adanay sosialisasi, harusnya sosialisasi tapi acara sudah di tutup dengan doa, kemudian panitia bilang “meski acara sduah di tutup tapi acaranya belum selesai maka jangan ada yang pulang dulu”. Hah (dalam batin saya).
Seseorang yang tau kalau dia akan mengikuti sebuah acara dan acara itu adalah sosialisasi, kalau acaranya belum mulai maka mana mungkin pulang, ya sia-sia dong datang tapi malah acaranya sendiri gak ada (tapi mungkin pemikiran ini berbeda dengan orang yang mungkin memiliki motif/tujuan berbeda). Mereka melakukan suatu hal yang seharusnya tidak perlu untuk dilakukan, dan tidak melakukan suatu hal yang seharusnya dilakukan. Aneh to.
Okelah sekarang waktunya untuk sosialisasi, yang seharusnya masuk dari bagian acara utama tapi malah dikeluarkan dari acara utamanya. Dalam sosialisasi seperti pada umumnya mereka melakukan presentasi terhadap materi yang disampaikan, materi yang berkaitan dengan tema yang dibahas pada hari itu. Kesan saya biasa, bahkan kurang menarik, mereka tidak bisa menjelaskan dengan jelas masalah apa yang akan dibahas apa, alur diskusi nanti kemana, dan tidak terstruktur atau urut (Maklum jika ini terdengar asing dan aneh bagi teman teman pembaca, FYI sebelumnya sudah terbiasa dengan metode yang jelas dan runtut di perkuliahan. Di tempat saya kuliah dosen dituntut untuk memberikan pengajaran yang terbaik kepada mahasiswa, dosen selalu datang dengan tepat waktu dan dengan perencanaan dan persiapan yang banyak, tidak jarang jika seorang dosen tidak siap dengan pengajaran karena suatu hal sakit atau yang lain, mereka akan meminta waktu untuk menunda pengajaran karena materi belum siap tentu hal ini dikomunikasikan dengan para mahasiswa, jika mahasiswa menyetujui maka waktu pengunduran akan disepakati, dan tentu mahasiswa memberikan kesepakatan tersebut, mahasiswa akan cenderung lebih memilih dosen yang siap mengajar daripada diajar tidak mendapatkan pengajaran yang maksimal) sehingga saya bisa menilai bahwa penyampaian yang dilakukan pembicara/pemateri sangat biasa atau bahkan kurang, saya menilai para pemateri kurang persiapan.
Mungkin itu bisa dimaklumi karena mereka memang tidak hanya fokus untuk melakukan presentasi kepada masyarakat, tapi apakah harus mereka presentatornya, jabatan kepala mungkin paham betul terhadap suatu organisasi, butuh tindakan yang cepat dalam keputusan, apa kegiatan mengajar atau mengisi materi tidak bisa diberikan kepada orang lain yang paham betul terhadap apa yang akan disampaikan kepada masyarakat, harusnya kapasitas sekelas pemerintah memiliki hal ini.
Dan terkesan guyon, ya memang mereka berhadapan dengan masyarakat, yang memang berbeda-beda, tapi bagi saya ini kan bukan forum guyon, tidak ada guyon pun tidak masalah. Masalahnya guyon yang mereka sampaikan itu tidak mengena dimasyarakat kan ya lucu, saya tertawa dalam hati merespon para audien yang tidak tertawa.
Forum diskusi juga tidak terencana, pengambilan keputusan panitia cenderung membingungkan, saat pemateri pertama selesai menyampaikan materi, pemateri membuka sesi tanya jawab, kemudian ada yang ingin menyampaikan pendapat, kemudian masyarakat/audien ada yang ramai, tak tau yang jelas seperti “kenapa kok tanya segala”, kemudian pemateri tersebut bingung dan akhirnya mengubah keputusannya untuk memberikan kesempatan bertanya nanti di akhir setelah pemateri kedua selesai menyampaikan materi, (padahal itu orang yang mau bertanya/menyampaikan pendapat sudah berdiri dan memegang mik)
Pembicara kedua secara materi mungkin lebih siap daripada pemateri pertama dan lebih tersturktur, tetapi di awal beliau seperti tidak ada persiapan untuk mencairkan suasana, (pendahuluan) beliau tidak siap secara pendahuluan, tapi ketika masuk materi beliau tau apa yang akan beliau sampaikan, mungkin karena beliau sudah menguasai materi yang mungkin sudah dia lakukan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun tahun.
Kemudian audien/para tamu undangan/masyarakat (terdiri dari perangkat desa, tokoh masyarakat, dan tokoh pemuda, saya mewakili tokoh pemuda wkwkw padahal tidak muda), ya karena mereka dari berbagai latar belakang dan pendidikan yang berbeda, tapi apa ya kita terus menyalahkan pendidikan dan latar belakang mereka kan juga tidak. Seharusnya sebagai warga negara yang baik, kita menghormati berbagai pendapat yang ada, tidak ramai ketika orang lain menyampaikan materi atau pendapatnya, menghormati panitia sebagai pemegang utama keputusan dalam acara tersebut. Yang menarik adalah mereka ramai ketika orang ingin menyampaikan pendapatnya/bertanya mengeluh “kenapa kok bertanya to pak-pak/bu-bu”, kemudian membuat panik pembicara, kemudian memutuskan untuk diakhir saja tanya jawabnya, kemudian mereka ramai mengeluh lagi “Sekarang aja”.
Pembicara pertama juga sama saja, ketika pembicara kedua telah selesai menyampaikan materi, orang yang ingin bertanya yang tidak jadi itu menyampaikan pendapatnya sekarang, beliau merendahkan penanya, pemateri menyampaikan materi mengenai pelayanan publik, penanya sebenarnya meminta pertanggungjawaban kejelasan terhadap hal yang dialaminya, tetapi tidak berkaitan sama sekali dengan tema. Nah pemateri, kan harusnya juga menghirmati pendapat orang lain, bukan malah menunjukkan bahwa apa yang disampaikan oleh orang tersebut tidak berhubungan dengan tema hari ini. Pernyataan ibu ini akhirnya menciptakan kegaduhan para audien. Kemudian beliau menjelaskan secara umum.
Pertanyaan mengenai kejelasan tersebut yang seharusnya ditujukan ke pemateri pertama, tetapi dengan rendah hati pemateri kedua menerimanya dengan santun, pemateri kedua berusaha untuk mencari titik permasalah dari apa yang dialami oleh penanya, beliau bermaksud untuk menampung segala masukan dari para masyarakat mengenai permasalahan yang dialaminya meski tidak berhubungan dengan tema, beliau menyampaikan bahwa ini merupakan aspirasi masyarakat, kita perlu mendata permsalahan, meski bukan ranah beliau berliau akan menyampaikan permasalahan tersebut kepada atasan untuk ditindaklanjuti. Menurut saya ini keren.
Saya tahu pemerintah, utamanya pemerintah daerah berupaya untuk menjadikan daerahnya maju, masak ada pemerintah menginginkan daerahnya mundur dan mengalami kebangkrutan, ekonomi lesu, dan permasalahan yang lain?, tentu tidak dong, tapi apa daya pemerintah juga sort-handed (kekurangan orang) dalam mengurus daerah yang menurut saya luas (bagaimana tidak untuk daerah yang luas dengan belasan kecamatan hanya ada POL PP sebanyak 50-80 an saja), pemerintah tentu membutuhkan uluran tangan masyarakat untuk ikut membantu program. Tapi apa daya, masyarakat juga punya kehidupan sendiri-sendiri mereka mungkin saja ada yang memiliki permasalahan untuk pemenuhan kebutuhan fisiologis, dan tentu mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Menjadi tenaga sukarelawan tentu saja tidak bisa disamakan sebagai bekerja sehingga mungkin saja masyarakat akan enggan untuk membantu pemerintah, tentu harus ada solusi atas permasalahan ini.
Ya itulah berbagi cerita dari saya, beberapa hal yang bisa di ambil adalah kita tahu pemerintah melakukan usaha untuk melakukan pembangunan dan kemajuan di daerahnya, tetapi untuk mewujudkannya ada hambatan, hambatan tanpa adanya solusi maka usaha untuk melakukan pembangunan juga tentu saja akan terhambat, jika hal ini tidak segera di atasi maka tentu derah tidak akan segera merasakan kemajuan/pembangunan.
Masyarakat seperti masih primitif, belum memiliki adab yang mulia dan merendahkan orang lain, tidak menghormati keputusan dari pemimpin (dalam hal ini panitia), Pemateri menganggap enteng program padahal mereka mengemban jabatan publik (ditunjukan dengan kurang persiapan), pemateri yang cenderung merendahkan masyarakat, serta Budaya masyarakat mengenai waktu juga masih kurang.
Dan tentu PR-PR itu merupakan tanggung jawab kita bersama. Bagaimana caranya? kita harus memikirkannya bersama.
Tertanda: Kotetsu - "You are moving by habit. You're not making decision after watching
your opponent's movements. That's why nothing's working for you. Get it?
Point is, you have no foundation."
| ありがとうございました。 |



Komentar
Posting Komentar
Silakan masukan uneg-unegmu, dan lakukanlah terjun payung karna saya juga ingin terjung payung.