4 Hal Mengenai Konten Kreator
Tulisan kali ini akan membahas mengenai beberapa kekhawatiran penulis mengenai konten kreator, mulai dari menjadikan konten kreator sebagai cara mencari uang dengan cepat, akhirnya tidak peduli dengan segala proses yang ada di balik kesuksesan seorang konten kreator lain kemudian hanya meniru beberapa hal teknis saja dan menganggap bahwa suatu karya benar-benar final bisa dipakai di segala zaman.
Suatu tulisan ilmiah biasanya berangkat dari suatu masalah yang diangkat. Kalau dalam cerita fiksi awalan, muncul permasalahan, cerita klimaks, muncul solusi, penutup. Tapi tulisan ini hanya akan membahas mengenai tulisan ilmiah.
Tulisan ilmiah berangkat dari suatu masalah, tujuannya bisa hanya sekedar mengeskplorasi permasalahan hingga bisa sampai mencari solusi atas permasalahan tersebut. Permasalahan pasti terkait dengan berbagai kondisi-kondisi, dan bisa jadi mengalami kemiripan antara satu permasalahan dengan permasalahan yang lainnya.
Suatu permasalah yang mirip bukan berarti memiliki cara pemecahan yang sama. Karena tidak semua permasalahan memiliki kondisi yang sama persis. Penulis beropini berangkat dari trend yang marak atas suatu hal yang mungkin kedepan akan mengalami perubahan.
Tetapi jika rumusannya adalah mencoba suatu hal yang baru atau berbeda dengan jalan tersebut padahal terdapat beberapa variabel yang berbeda maka hasilnya dapat dipastikan tidak sama.
Misal ada orang X dengan intensitas posting 1 per hari, dengan tema masakan. Kontennya pembahasan mulai dari resep, cara memasak, cara penyajian, yang disajikan bersamaan foto-foto dengan teknik foto makanan yang baik. Dengan teknik dimikian, orang X mampu meningkatkan pengikut dengan cepat, karena karakter pengikutnya memang suka masakan dan juga ingin mencoba resep yang juga disajikan cara memasaknya oleh si orang X. Tapi, kemudian ada orang lain yang hanya mengambil kesimpulannya dengan melihat peningkatan jumlah pengikutnya saja, lalu mengambil kesimpulan bahwa ini adalah pengaruh dari intensitas postingnya saja. Padahal hasilnya tentu akan berbeda meskipun menggunakan metode yang sama tetapi tema yang berbeda, atau perbedaan variabel lainnya.
Semua hal perlu diperhitungkan, variabel-variabel yang berbeda maka memerlukan penyikapan yang berbeda. Apalagi jika kita kembali ke contoh kasus tadi, mulai dari tema pembahasan, teknik posting, teknik pengambilan gambar makanan, konten/isi pembahasan mempengaruhi seluruh kegiatan yang dilakukan. Berbeda lagi jika pembuat konten memiliki sasaran komunikan anak-anak, cara penyampaiannya juga akan berbeda dengan konten yang ditujukan untuk umum, bisa dengan teknik menggunakan gambar-gambar lucu, atau subjek foto lain yang disukai anak-anak.
Sekian.
*Pandji Pragiwaksono, seorang komedian yang giat memberikan tips utuk meningkatkan kesadaran bekerja dari karya. Topik-topik pembahasan yang biasa dilakukan adalah bagaimana hidup dari karya, bagaimana menemukan pekerjaan tapi tidak membenci dan mengeluh ketika menghadapi pekerjaan, bekerja dan berkarya adalah dua hal yang berbeda, bagaimana menggabungkan antara apa yang dibisa dan apa yang disuka, dan masih banyak lagi.
Buku tidak selalu menjadi kunci
Buku adalah sumber ilmu pengetahuan, tapi buku yang saya maksud kali ini adalah buku secara umum suatu produk pikiran atas suatu realitas. Sehingga bisa berupa media daring dari web, atau media sosial, atau pun media luring seperti buku, jurnal, koran ataupun yang lain. Dengan kata lain buku sebagai sebuah sumber acuan orang lain menciptakan sebuah karya.Suatu tulisan ilmiah biasanya berangkat dari suatu masalah yang diangkat. Kalau dalam cerita fiksi awalan, muncul permasalahan, cerita klimaks, muncul solusi, penutup. Tapi tulisan ini hanya akan membahas mengenai tulisan ilmiah.
Tulisan ilmiah berangkat dari suatu masalah, tujuannya bisa hanya sekedar mengeskplorasi permasalahan hingga bisa sampai mencari solusi atas permasalahan tersebut. Permasalahan pasti terkait dengan berbagai kondisi-kondisi, dan bisa jadi mengalami kemiripan antara satu permasalahan dengan permasalahan yang lainnya.
Suatu permasalah yang mirip bukan berarti memiliki cara pemecahan yang sama. Karena tidak semua permasalahan memiliki kondisi yang sama persis. Penulis beropini berangkat dari trend yang marak atas suatu hal yang mungkin kedepan akan mengalami perubahan.
Rumusan Masalah adalah suatu hal yang utama
Jika rumusannya masalahnya adalah ingin mencoba menjalankan suatu hal yang serupa, maka meniru adalah suatu jalannya.Tetapi jika rumusannya adalah mencoba suatu hal yang baru atau berbeda dengan jalan tersebut padahal terdapat beberapa variabel yang berbeda maka hasilnya dapat dipastikan tidak sama.
Misal ada orang X dengan intensitas posting 1 per hari, dengan tema masakan. Kontennya pembahasan mulai dari resep, cara memasak, cara penyajian, yang disajikan bersamaan foto-foto dengan teknik foto makanan yang baik. Dengan teknik dimikian, orang X mampu meningkatkan pengikut dengan cepat, karena karakter pengikutnya memang suka masakan dan juga ingin mencoba resep yang juga disajikan cara memasaknya oleh si orang X. Tapi, kemudian ada orang lain yang hanya mengambil kesimpulannya dengan melihat peningkatan jumlah pengikutnya saja, lalu mengambil kesimpulan bahwa ini adalah pengaruh dari intensitas postingnya saja. Padahal hasilnya tentu akan berbeda meskipun menggunakan metode yang sama tetapi tema yang berbeda, atau perbedaan variabel lainnya.
Semua hal perlu diperhitungkan, variabel-variabel yang berbeda maka memerlukan penyikapan yang berbeda. Apalagi jika kita kembali ke contoh kasus tadi, mulai dari tema pembahasan, teknik posting, teknik pengambilan gambar makanan, konten/isi pembahasan mempengaruhi seluruh kegiatan yang dilakukan. Berbeda lagi jika pembuat konten memiliki sasaran komunikan anak-anak, cara penyampaiannya juga akan berbeda dengan konten yang ditujukan untuk umum, bisa dengan teknik menggunakan gambar-gambar lucu, atau subjek foto lain yang disukai anak-anak.
“Apa salahnya mencoba?”
Ya gak ada masalah sih sebenarnya. Cuma cobalah sambil memikirkan arah/tujuannya. Jika tujuannya adalah main-main, silakan lanjutkan, karena menurut bang Pandji* “main-main adalah satu cara teman-teman menemukan kesukaan dalam bidang tertentu.” Sehingga ketika teman-teman mulai menemukan kesukaan, teman-teman bisa mendalaminya dan mengembangkannya. Tapi kalau tujuannya adalah serius tentu perlu juga memikirkan variabel-variabel terkait lainnya.Ikuti pasar
Riset pasar perlu dilakukan untuk memasarkan produk kita kepada masyarakat. Apa yang dicari, menyediakannya adalah kunci dari lakunya suatu produk. Tetapi mengikuti pasar bukan satu-satunya untuk membuat produk kita berhasil dipasarkan. Kita bisa membangun pasar atau menciptakannya.Kesimpulan
Itu adalah isi pikiran ngalor ngidul penulis. Poin yang bisa kita ambil adalah 1. Suatu masalah bukan berarti akan selesai ketika kita mencari solusi atas permasalahan yang serupa, sehingga kita tidak perlu mengandalkan buku; 2. Identifikasi variabel adalah kunci untuk menyelesaikan suatu permasalahan; 3. Tidak ada salahnya mencoba hal baru untuk sekedar main-main dan ekplorasi sehingga bisa diambil suatu pelajaran darinya; 4. Riset pasar berperan penting dalam membuat suatu produk yang laku tapi jika kita tidak peduli pasar maka kita harus menciptakan pasar.Sekian.
Koharndeso
*Pandji Pragiwaksono, seorang komedian yang giat memberikan tips utuk meningkatkan kesadaran bekerja dari karya. Topik-topik pembahasan yang biasa dilakukan adalah bagaimana hidup dari karya, bagaimana menemukan pekerjaan tapi tidak membenci dan mengeluh ketika menghadapi pekerjaan, bekerja dan berkarya adalah dua hal yang berbeda, bagaimana menggabungkan antara apa yang dibisa dan apa yang disuka, dan masih banyak lagi.

Komentar
Posting Komentar
Silakan masukan uneg-unegmu, dan lakukanlah terjun payung karna saya juga ingin terjung payung.