Si Kecil Bohong?

Ketika Anak Mulai Tidak Terbuka dan Berbohong

Halo Bunda, bagaima kabar si kecil hari ini? Semoga tetap sehat selalu ya selama masa pandemi ini. Kali ini penulis ingin berbagi cerita tentang si kecil dengan bunda. Kejadiannya sudah cukup lama sekali, tetapi masih menggelitik untuk dibahas, karena penulis menilai bahwa tidak hanya penulis saja yang mengalami hal ini, tetapi bisa juga Bunda di rumah pernah atau sedang menghadapi kondisi yang serupa.

Ceritanya pada suatu malam penulis menjumpai salah satu anak asuh penulis, sebut saja namanya Dede, setelah bermain dengan teman-temannya yang memiliki usia lebih tua dari dia, tiba-tiba diam dan raut mukanya menjadi suram. Tentu dong, reflek pertama yang terlintas adalah pasti ada kejadian yang tidak beres ini dalam sesi bermainnya. Akhirnya penulis berusaha mendatangi dan mengajak ngobrol, tetapi Dede tidak mau cerita. Kejadian ini berlangsung beberapa kali, hingga akhirnya muncullah inisiatif untuk bertanya pada teman-temannya mengapa kok dia selalu murung. Ternyata berdasarkan informasi dari teman-temannya ia sering ditarget oleh anak yang lebih tua, sering dimintai untuk menyerahkan uang jajannya. Wah ini bukan kejadian yang remeh ini, tetapi kenapa Dede tidak mau cerita ya?

Bunda, di sini ada yang pernah memiliki atau sedang menghadapi kondisi yang sama dengan penulis? Yaitu ketika si kecil mulai untuk enggan menceritakan aktivitasnya atau bahkan berbohong. Bentuknya bisa sederhana seperti ketika pulang tiba-tiba pakaiannya kotor tetapi tidak mau bercerita habis main apa, atau bilang sudah selesai belajar lalu bermain tetapi ketika diperiksa ia mengerjakan dengan asal-asalan atau bahkan belum selesai atau seperti pengalaman Dede seperti yang penulis ceritakan. Jika si kecil sering menunjukkan perilaku demikian, itu menandakan bahwa si kecil mulai mengenal apa itu perilaku berbohong.

Bohong?

Apakah hal ini adalah hal yang buruk? Iya, jika penanganan yang kita lakukan sebagai pengasuh anak kurang tepat atau tidak sesuai. Anak akan memiliki karakter tidak jujur dan curang ketika ia tumbuh menjadi sosok remaja. Namun fase anak mengenal perilaku berbohong juga menjadi peluang emas bagi Bunda untuk menanamkan nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab. Pada kesempatan kali ini penulis akan berbagi metode komunikasi yang dapat mendorong anak untuk lebih terbuka dalam bercerita dan menghindarkan anak dari perilaku berbohong. Bagaimana metodenya? Yuk simak ulasan penulis berikut :

Memahami dunia anak

Komunikasi adalah penyampaian pesan untuk dimengerti dan dipahami oleh penerimanya. Ketika berhadapan dengan si kecil ada baiknya kita sebagai pengasuh untuk terjun dan memahami dunia si kecil. Si kecil memahami dunia yang berbeda dari kita sebagai orang dewasa, oleh karenanya dengan memahami dunia si kecil kita menjadi lebih mudah untuk berbagi pesan dan cerita.

Membangun kedekatan dan kehangatan dengan si kecil menjadi kunci agar ia mau menceritakan dunianya. Cobalah untuk mendengarkan ocehannya dan cobalah untuk memberikan tanggapan yang memperluas ceritanya, seperti “kok bisa?” “apa yang terjadi selanjutnya?” dan berbagai pertanyaan lainnya. 
Ilustrasi oleh Ghon disunting Tim Baka

Cobalah untuk mengajaknya berbicara atau sekedar mendengarkan ocehannya tentang hal kecil yang ia alami atau ia capai. Berikan apresiasi atau berikan penilaian terhadap apa yang dilakukan anak. Kesabaran dan perhatian menjadi titik kunci bagi anak untuk membangun kepercayaan diri dalam bercerita. Sehingga ketika ia menghadapi situasi yang lebih serius, ia berani untuk bercerita dengan bundanya, orang yang paling dekat dan paling nyaman untuk diajak mengobrol.

Di sini dibutuhkan kesabaran dan energi ekstra untuk memilah alur obrolan si kecil, memahami potongan-potongan kalimat yang ia lontarkan hingga menjaga konsentrasi menemani mereka bercerita. Terlebih lagi tantangan pekerjaan dan kesibukan terkadang menghalangi kita untuk dekat dengan anak. Namun alangkah baiknya ketika kita mau meluangkan sejenak waktu kita untuk si kecil dan ikut bermain di dunianya. Hal ini selain membentuk kedekatan dengan si kecil juga akan membentuk kenangan berharga bagi bunda dengan si kecil. Pengalaman bermain dengan si kecil hanya berlangsung singkat dan tidak bisa di ulang, sehingga yuk Bunda, kita manfaatkan peluang yang ada dengan si kecil.

Ketika telah terbangun kedekatan dan kesamaan pemahaman dengan si kecil, akan memudahkan bunda untuk berkomunikasi dan menyampaikan maksud bunda kepada si kecil. sehingga tetap bersabar ya bunda, setiap perhatian yang bunda berikan kepada anak akan menjadi pelajaran yang senantiasa diingat anak hingga ia tumbuh menjadi pribadi yang dewasa.

Bunda menghargai sikap kejujuran

Salah satu penyebab anak tidak bercerita dan tidak mengatakan yang sebenarnya adalah adanya bayang-bayang ketakutan. Entah tidak dibolehin bunda bermain, dimarahin oleh bunda, atau takut kepercayaan bunda terhadapnya akan menurun. Hal ini terjadi baik terhadap si kecil yang berbohong agar ia bisa bermain atau si kecil yang berbohong untuk menutupi kesalahannya atau perilakunya.

Ada beberapa penyebab mengapa muncul ketakutan itu, bisa karena ia pernah mengalami hal buruk dari bunda ketika ia salah, melihat temannya yang diomelin oleh orang tuanya, atau bayangan imajinatif bahwa bunda akan marah ketika ia tidak berperilaku baik. Oleh karenanya Bunda perlu menekankan kepada si kecil bahwa bunda tidak akan marah ketika ia mau bercerita dan bahkan bunda juga harus menunjukkan bahwa bunda sangat menghargai sikap terbuka dan jujur pada anak. Dengan demikian akan tumbuh rasa nyaman untuk terbiasa bercerita dengan bunda.

Bunda, mungkin kesal dan sedih rasanya jika mendengar cerita bahwa anak kita melakukan hal yang buruk, entah sekedar memukul temannya, bermain hingga lupa waktu, atau bahkan ketahuan ikut mencuri dengan teman-temannya. Perlu bunda ingat bahwa si kecil masih dalam tahap belajar, ia bisa jadi tidak memahami apa yang ia lakukan sendiri. Oleh karenanya alih-alih langsung menunjukkan rasa kesal dan sedih, memberikan pelukan hangat dan menunjukkan bahwa bunda khawatir bisa memberikan rasa nyaman bagi si kecil. Terlebih si kecil yang berbohong untuk menutupi kesalahannya. Berikan secara perlahan pemahaman dan tips-tips yang bisa dilakukan anak ketika menghadapi kondisi yang sama, sehingga ia tidak mengulang kesalahan yang sama.

Bagi si kecil yang berbohong untuk mendapatkan apa yang dia senangi (bermain contohnya), alih-alih memberikan hukuman, mengenalkan perilaku tanggung jawab dan mengajak anak untuk berpartisipasi dalam menjalankan kewajibannya membantu si kecil untuk lebih memahami kesalahan perilakunya dan mengetahui cara yang lebih baik dalam berperilaku.

Berbohong maka tidak dipercaya

Anak berbohong mungkin karena anak belum memahami nilai berbohong yang sebenarnya. Anak melakukan perilaku itu karena ia merasa ia mampu memperoleh apa yang dia inginkan dengan instan atau menghindari konsekuensi buruk yang akan dia terima.

Mengenalkan dampak buruk berbohong mampu mengubah sudut pandang anak terhadap perilakunya dengan harapan mampu mendorong anak untuk tidak lagi berbohong dan lebih memilih berkata jujur.

Menjelaskan dengan cerita akan lebih mudah diterima dan diserap oleh anak. Seperti menceritakan kisah penggembala domba dan serigala yang pernah diilustrasikan dalam serial upin-ipin, mampu membantu anak memahami bahwa ketika berbohong ia akan kehilangan kepercayaan dari orang lain. Tunjukkan cerita-cerita yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari anak akan memudahkan anak untuk memahami bahwa berbohong itu buruk.

Selain menunjukkan nilai berbohong, bunda juga perlu menghindari berbohong kepada anak, entah dalam hal sepele maupun yang serius. Anak memiliki daya tangkap dan belajar yang tinggi, sehingga ketika bunda berbohong anak akan belajar untuk berbohong.

Bunda Bercerita

Bunda, meskipun anak sudah mau bercerita, tetapi ia akan merasa tidak adil kalau hanya dia yang bercerita saja. Ia juga ingin mendengarkan cerita dari bunda. Ia ingin belajar dan memahami apa yang terjadi dengan bundanya, walaupun dari sisi dunia anak-anak.

Bunda bisa memulai cerita dengan anak tentang hal yang mungkin anak-anak amati dengan detail, Bunda tidak perlu bercerita hal-hal yang rumit, hal sederhana yang ditemui ketika perjalanan ke kantor atau ketika bekerja di kantor bisa menjadi topik pembicaraan dengan si kecil. Seperti bunda bisa menceritakan bertemu kucing di kantor. Menjelaskan bagaimana kucing itu dan mengajak si kecil untuk ikut membayangkan betapa menggemaskannya kucing itu.

Mungkin ini hal yang kecil yang bunda lakukan dengan si kecil. namun hal-hal kecil ini akan membentuk budaya keterbukaan antara si kecil dan bunda. Dan akan membangun budaya komunikasi yang sehat antara bunda dan si kecil. Dalam tumbuh kembangnya topik pembicaraan bisa diperluas, mulai mengenalkan yang mana perilaku yang baik dan yang mana perilaku yang buruk. Topik tentang tayangan di televisi, youtube, atau adegan di film bisa menjadi obrolan yang menarik bagi bunda dan si kecil yang sudah mulai tumbuh menjadi remaja. Dengan demikian ketika ia usia remaja, ia akan terbiasa bercerita tentang kesibukannya, pertemanannya, bahkan kegundahan ketika mengalami masa puber berani ia bagi dengan bundanya.

Konklusi

Empat metode komunikasi yang penulis berikan dapat membantu bunda untuk menjalin komunikasi yang lebih dekat dengan si kecil. Diperlukan kesabaran dan ketelatenan dalam menghadapi anak, terutama dalam membangun komunikasi yang sehat dengan anak. Memberikan rasa nyaman dan membiasakan untuk terbuka menjadi tonggak penting dalam menghindarkan anak dari perilaku bohong dan curang. Membangun sikap tanggungjawab dan jujur mampu membentuk pribadi yang percaya diri dengan perilakunya sehingga meminimalisir perilaku-perilaku berbohong dan kurang terbuka.

Yuk bunda kita senantiasa menjaga dan memberikan perhatian yang terbaik untuk si kecil agar ia tumbuh menjadi pribadi yang mampu percaya diri dan bertanggung jawab.


Mera Viola

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berhadapan dengan Monster

Petani Kopi Bisa Apa

Pemula Tidak Bisa Membuat Makanan Lezat?