Si Kecil dan Teman Sepermainan

Dampak Bermain dengan Teman Sepermainan


Sebagai bagian dari manusia yang memiliki sifat bersosialisasi, anak pun akan membentuk atau mengikuti jaringan pertemanan yang dianggapnya nyaman. Semakin bertambahnya umur, jangkauan pertemanannya semakin luas. Anak mengenal beragam karakter, beragam sifat, bahkan beragam gaya hidup dari teman-temannya. Tidak hanya terbatas pada teman sebaya, kakak kelas yang lebih tua tetapi sering memainkan permainan yang sama juga bisa menjadi lingkar jaringan pertemanan anak.

Sebagai orang tua, tentu kondisi ini memunculkan rasa khawatir. Terlebih lagi ketika anak usia sekolah ( 6 – 12 tahun ), kemampuan mempertimbangkan perilakunya masih minim, mereka cenderung mudah kagum dan meniru sosok yang dianggapnya hebat, baik dari teman sepermainannya maupun tokoh idolanya. Dengan begitu, tidak dimungkiri anak mungkin akan menirukan perilaku yang kurang baik. Diantaranya adalah munculnya perilaku memberontak dari anak, kurang disiplin, lalai terhadap kewajibannya, berkata kasar, cenderung egois, dan lainnya.

Mungkin sebagai orang tua kita mengajarkan hal-hal baik, tetapi di lingkungan bermain anak akan lebih terpengaruh karena mereka bermain bersama dan ketika tidak mengikuti gaya permainan kemungkinan dia tidak akan di ajak bermain lagi.

Meskipun demikian, pertemanan anak tidak selalu memberikan dampak negatif. Justru dengan adanya jaringan pertemanan, anak menjadi lebih memahami dunia sosial. Masa anak-anak bermain dengan temannya adalah sebuah miniatur dari kehidupannya ketika ia sudah dewasa. Beberapa dampak positif dari jaringan pertemanan anak antara lain :

Melatih kemampuan bahasa dan sosial

Memiliki banyak teman, tentu memberikan peluang seorang anak untuk berinteraksi dengan berbagai karakter temannya. Tentu saja pola komunikasi dan pola interaksi tidak selalu sama dengan sang anak. Seorang anak secara alamiah akan terdorong untuk belajar bagaimana ia berkomunikasi secara efektif dengan teman-temannya. Ia akan menjumpai bahwa ungkapan langsung tidak selamanya bekerja. Ia akan berusaha memilih diksi bagaimana membuat temannya yang sedang sedih akhirnya senang kembali, bagaimana mengungkapkan pendapat tanpa harus melukai perasaan temannya, dan banyak hal lainnya.

Anak akan dipaksa belajar, baik dari pengamatannya selama bermain dengan teman sepermainannya, mengamati bagaimana orang dewasa berinteraksi, atau mengamati dari film atau serial kesukaannya. Dengan demikian ia akan belajar tentang interaksi sekaligus perbendaharaan kebahasaan. Hal ini akan membantu anak ketika dewasa, Ia akan lebih peka terhadap komunikannya dan mampu berkomunikasi sesuai dengan karakter komunikannya.

Melatih kepekaan sosial

Kepekaan terbangun karena adanya pengetahuan. Dengan menjalin pertemanan, anak akan menjadi tahu mengenai kondisi temannya. Ketika ia sering berinteraksi dengan teman-temannya, dan sering berbagi cerita dengan mereka, maka seorang anak akan lebih mengenal dekat teman temannya. Semakin anak memahami teman-temannya, Ia akan semakin peka terhadap kondisi yang sedang dialami temannya. Pada tahap yang lebih lanjut, empati anak akan berkembang.

Ketika empati anak berkembang, anak akan mulai bisa mengatur ego-nya, ia akan berusaha mempertimbangkan apa yang dialami temannya ketika ia berperilaku demikian. Hal ini akan membentuk sebuah karakter. Sehingga ketika anak mengamati kondisi di sekitarnya ( meskipun itu bukan temannya ), ia akan mengasosiasikan kondisi itu dengan temannya dan akan tahu apa yang dirasakan oleh lingkungan sekitarnya. Contohnya ketika anak melihat anak lain sedang menangis, ia akan merasa iba, kasihan, muncul keinginan untuk menolong, yang didasarkan atas pemahamannya yang di dapatkan dari pengalamannya, misalnya pengalaman bahwa ketika dia atau teman-temannya mengalami kejadian yang tidak menyenangkan, ketika teman yang menangis malah ditertawakan maka akan bertambah parah, dan berbagai pemahaman-pemahaman lainnya yang berhubungan.

Belajar arti solidaritas

Semakin sering anak berkumpul dengan temannya, semakin besar pemahamannya bahwa ia tidak bisa hidup sendiri. Ia membutuhkan orang lain untuk memenuhi keinginannya, apakah itu sekedar bermain bersama, bercanda bersama, atau menyelesaikan pekerjaan rumah bersama-sama. Singkatnya, teman bisa memberikan jalan keluar ketika sang anak mengalami kesulitan.

Pengalaman-pengalaman seperti ini akan membentuk pemahaman pada anak, bahwa ia tidak ingin temannya mengalami kesulitan. Oleh karenanya kepedulian, saling membantu, dan saling memahami menjadi hal yang ia anggap harus ia lakukan. Ia juga akan memahami bahwa dengan solidaritas tersebut, ikatan pertemanan mereka akan semakin kuat.

Membangun relasi yang kuat

Pertemanan pada anak-anak mungkin hanya sebatas bermain dan bercanda bersama. Namun seiring bertambahnya umur anak ( ketika beranjak smp atau sma ), pertemanan tidak lagi sebatas bermain dan bercanda. Melalui pertemanan mereka bisa berbagi pengalaman tentang kesulitan yang mereka alami atau bahkan berbagi tentang apa yang ingin mereka lakukan/capai bersama-sama.

Jaringan pertemanan yang telah terbangun lama, memungkinkan anak untuk mencari partner yang bisa dipercaya dalam berbagi cerita, mengembangkan hobi, atau bahkan ketika ia sudah dewasa dapat dijadikan sarana sosialisasi.

Sekedar berbagi pengalaman, waktu kecil penulis punya teman yang sangat mudah berbaur dengan rekan sebayanya bahkan dengan beberapa orang yang lebih tua. Teman penulis ini sangat senang sekali bermain di warnet. Hingga suatu ketika, ia ingin bermain tanpa harus meminta uang saku lebih banyak kepada orang tuanya. Waktu itu, masa-masa smp, baru populer penggunaan HP di kalangan anak-anak smp. Pulsa menjadi kebutuhan baru selain jajan. Teman saya akhirnya mencoba jualan pulsa untuk menambah uang jajannya, alhasil dalam waktu singkat banyak teman-temannya yang sudah menjadi pelanggannya.

Dari peristiwa tersebut menunjukkan bahwa lingkar pertemanan yang kuat dapat membantu seorang anak mencapai apa yang ia inginkan.

Membentuk pribadi yang kuat

Sebagai bentuk solidaritas, tentu seorang teman tidak ingin rekannya mengalami kesulitan. Mereka cenderung berupaya mencari cara agar rekannya mampu bangkit dari kesulitannya. Baik itu ditunjukkan dalam bentuk teman curhat/ngobrol, bantuan berupa tindakan langsung ( dalam kasus anak kecil biasanya melabrak anak yang mengganggu temannya ), atau mencarikan orang yang bisa membantu ( biasanya memanggilkan orang tua, membantu konsultasi dengan guru, dsb. ).

Dalam kegiatan yang sederhana, teman cenderung akan memberikan semangat terhadap apa yang akan dikerjakan oleh anak. Ketika ulang tahun akan dirayakan bersama dengan perayaan ala kadarnya anak kecil, ketika seorang anak jatuh ada yang menolongnya atau berusaha mengantarnya sampai ke rumah dan menjelaskan kepada orang tuanya agar tidak memarahinya, atau mendukung apa yang menjadi keinginan temannya ( seperti pengamatan penulis ketika mengamati ada anak kecil yang temannya jago gambar, ia akan memotivasi, mendukung, mempromosikan gambar temannya dsb. ). Alhasil anak menjadi lebih percaya diri dan lebih merasa diterima di lingkungannya.

Konklusi

Memberikan kesempatan pada anak untuk bersosialisasi dan bermain dengan temannya memang memiliki potensi dampak negatif. Seperti terjerumusnya dalam perilaku yang nakal dan kurang disiplin. Tetapi di sisi lain, anak membutuhkan pengalaman sosial untuk membentuk pribadi yang peka, peduli, bahkan kuat secara mental. Justru melalui pengalaman pertemanan yang anak bangun ketika usia sekolah, anak akan belajar mengenai komunikasi, empati, solidaritas, dan tumbuh menjadi pribadi dengan mental yang kuat.

Oleh karenanya, rasa kekhawatiran orang tua terhadap perkembangan anaknya memang diperlukan. Tetapi mengambil tindakan untuk membatasi pertemanan anak perlu dihindari. Daripada membatasi, yuk kita dampingi anak dalam membangun pertemanan, sehingga anak bisa belajar dengan baik. Dengan demikian anak akan menjadi pribadi yang tangguh di lingkungannya.

Tentu saja tidak semua pertemanan yang dijalani anak adalah pertemanan yang Ideal, sebagai orang tua perlu memberikan bekal kepada anak sehingga ia tidak terjerumus pada pertemanan yang bersifat negatif. Salah satunya adalah dengan membekali anak mengenai pertimbangan perilaku. Dengan membiasakan anak untuk memahami dampak perilakunya, anak mampu menilai sendiri mana interaksi yang bersifat positif dan mana interaksi yang bersikap negatif. Untuk lebih lanjut mengenai hal yang dapat dilakukan orang tua agar anak tidak terjerumus dalam pertemanan yang negatif, akan penulis sajikan pada tulisan berikutnya.


Mera Viola

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berhadapan dengan Monster

Petani Kopi Bisa Apa

Pemula Tidak Bisa Membuat Makanan Lezat?