Perilaku Anak Mengejutkan Kita, Bagaimana Meresponnya? (Bagian 2)
Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya. Belum baca? Klik disini
Pada dasarnya dengan memahami dari mana anak belajar perilaku tersebut akan membantu kita memahami seberapa kuat perilaku tersebut akan bertahan pada diri anak. Namun respon yang kita berikan, terkadang mampu memperkuat atau memperlemah perilaku anak.
Tentu saja Bunda tidak ingin dong perilaku buruk anak yang berkembang, kita tidak ingin anak semakin sering berkelahi atau mengolok-olok temannya. Pernah kah bunda mengomel dengan harapan anak berhenti berkelahi atau mengolok-olok temannya, tetapi yang terjadi justru sebaliknya : Anak menjadi semakin berani berkelahi?
Tenang, Bunda tidak sendirian. Ketika penulis berkesempatan untuk membina adik-adik kecil, hal tersebut sering terjadi pada penulis. Namun setelah mengamati berbagai pola perilaku, penulis memiliki beberapa trik yang ingin penulis bagikan dengan Bunda. Harapannya kita menjadi lebih tepat dalam merespon segala bentuk perilaku baru pada anak, baik perilaku anak yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif. Bagaimana triknya, yuk simak ulasannya.
1. Tidak panik dan tidak merespon secara berlebihan
Ketika kita melihat perilaku yang mengejutkan dari anak, lebih baik untuk tidak panik dan tidak merespon berlebihan. Seperti yang kita ketahui, anak mendapatkan perilaku itu dari proses ia belajar dan mengamati lingkungannya. Respon yang berlebihan atau panik berpeluang besar memunculkan efek yang tidak kita harapkan. Sebab kita belum mengetahui bagaimana perilaku anak terbentuk dan apa yang anak harapkan dari perilakunya.
Contohnya ketika anak tiba-tiba mulai membersihkan kamarnya sendiri. Kita mungkin akan sangat senang sekali, karena itu perilaku yang jarang ia lakukan. Kita mungkin akan memberikan banyak pujian dengan harapannya ia akan lebih semangat. Atau mungkin kita memberikan komentar karena menurut kita ada beberapa hal yang kurang rapi.
Berdasarkan contoh tadi, terdapat loo anak-anak yang ketika mencoba hal baru tetapi ketika mendapatkan pujian yang berlebihan akhirnya ia tidak melanjutkannya. Hal ini terjadi karena pada dasarnya anak-anak tersebut berharap mendapatkan respon yang normal. Terutama bagi mereka yang masih merasa kurang percaya diri dengan apa yang dilakukannya. Pujian yang berlebihan akan melemahkan perilakunya, karena baginya ia akan dituntut untuk terus baik agar mendapatkan respon yang positif.
Contoh kongkrit yang diamati penulis adalah ketika ada seorang anak yang memulai menggambar, ia membutuhkan waktu yang lama untuk menghasilkan gambar (yang menurut dia masih kurang bagus). Ketika ia memperoleh berbagai pujian bahwa gambarnya bagus, ia tidak lagi melanjutkan menggambar. Ia takut ketika hasil gambarnya jelek tidak lagi mendapatkan respon positif.
2. Adakan dialog
Untuk tahu sebab-sebab perilaku anak muncul, tentu kita harus melakukan dialog dengan sang anak. Tujuan dari dialog adalah mengetahui dari mana anak mencontoh perilaku itu dan apa harapan anak berperilaku demikian. Dialog yang kita lakukan tidak dalam rangka untuk membantah atau membenarkan perilaku anak. Oleh karenanya dibutuhkan kesabaran untuk memahami cerita dari sudut pandang mereka.
Dialog tidak harus dilakukan dalam waktu singkat, kita bisa perlahan-lahan berdialog dengan memperhatikan perkembangan perilakunya. Ingat! tujuannya adalah memahami dari mana anak mencontoh perilaku dan memahami motif/harapan anak ketika ia berperilaku demikian. Ketika kita sudah memahami dua hal itu dari perspektif sang anak, kita bisa mulai menyusun strategi untuk merespon perilaku anak. Bisa dengan dukungan atau dengan menunjukkan alternatif perilaku lain.
3. Beri dukungan, jika perilaku bernilai positif
Memberi dukungan berarti mengupayakan agar anak semakin semangat atau memudahkan anak dalam menjalankan aktivitas barunya. Bentuk dukungan bisa sederhana, seperti mendengarkan anak menceritakan pengalaman pada aktivitas barunya, mencoba mengikuti bagaimana perkembangan atau kendala apa yang dihadapi oleh anak, atau mendengarkan ungkapan senang bahkan sedih ketika bergelut di aktivitas barunya. Atau memberikan dukungan yang lebih kompleks seperti memberikan perangkat pendukung atau memberikan lahan dan pengondisian untuk mengembangkan aktivitasnya.
Contohnya ketika anak mulai mencoba menabung, coba beri uang jajan yang sedikit lebih banyak. Lihat bagaimana ia merespon dan bagaimana ia bertahan menabung ketika teman-temannya pada menghabiskan uangnya untuk jajan. Mengajarkan anak untuk mencatat tabungannya dan menuliskan pengeluarannya atau memberikan tips terkait mengelola uang secara sederhana akan membantu mengembangkan aktivitas menabung anak. Ia bisa jadi tidak hanya ahli dalam menyisihkan uang jajannya namun bisa jadi ia telah terlatih untuk mengatur uang jajan yang ia miliki (seperti memilih prioritas menjajankan uangnya). Terakhir coba beri tantangan dengan mengubah pola uang saku, dari yang harian menjadi mingguan atau bulanan.
4. Tunjukkan alternatif perilaku, jika perilaku bernilai negatif
Perbendaharaan perilaku anak masih sangat minim, oleh karenanya untuk mendapatkan perhatian atau penghargaan dari orang lain, ia akan langsung meniru perilaku yang ia amati. Sehingga memberikan alternatif perilaku dan mengondisikan anak dengan perilaku alternatif tersebut mampu melemahkan perilaku baru yang bernilai buruk.
Contoh yang sederhana ketika anak ingin dipandang sebagai sosok yang berani, ia mencoba untuk melawan orang-orang yang lebih tua. Akibatnya anak cenderung mudah marah atau mengajak berkelahi. Ketika demikian, coba tunjukkan pada anak arti berani yang lebih positif, seperti berani untuk mengakui kesalahan, berani untuk menyampaikan yang baik, dan berani untuk bertanggung jawab. Yang perlu menjadi perhatian adalah terbentuknya perilaku tidak instan, oleh karenanya harus sabar dan kreatif untuk membangun dan merombak perilaku anak yang bernilai negatif.
Konklusi
Secara umum, perilaku baru yang muncul dalam diri anak masih bersifat sementara, anak mudah sekali mengubah perilakunya atau mengembangkan perilakunya. Oleh karenanya respon yang tepat mampu memberikan dampak yang lebih positif bagi anak. Anak akan lebih mengembangkan aktivitasnya yang bersifat positif atau anak akan mau meninggalkan perilakunya yang bernilai negatif.Memahami mengapa anak berperilaku demikian dan dari mana ia belajar/mengamati perilaku tersebut memberikan peluang bagi kita untuk menyusun strategi yang lebih tepat untuk mendukung anak. Selain itu dengan menahan diri untuk tidak berperilaku panik atau berekspresi yang berlebihan memberikan ruang bagi kita untuk lebih jernih memahami situasi dari berbagai sudut pandang. Selanjutnya dengan memberikan pengondisian dan pendampingan yang baik akan membantu membentuk perilaku anak lebih bernilai positif.
Anak-anak memiliki karakter yang berbeda-beda, oleh karenanya kita harus kreatif dan lebih banyak mendengarkan mereka. Yuk Bunda kita biasakan untuk mendengarkan anak dan menyusun cara untuk merespon yang paling tepat. Oh iya, Bunda atau pembaca boleh membagikan berbagai pengalaman dan dinamika yang dihadapi ketika merespon periaku anak di kolom komentar atau email yaa. Sekian dan terima kasih.
MeraViola

Komentar
Posting Komentar
Silakan masukan uneg-unegmu, dan lakukanlah terjun payung karna saya juga ingin terjung payung.