Perilaku Anak Mengejutkan Kita, Bagaimana Meresponnya? (Bagian 1)

Bunda, pernah kah kaget kalau si kecil tiba-tiba berperilaku di luar apa yang kita bayangkan? Bahkan bisa jadi kita tidak pernah mengenalkan atau mengajari si kecil berperilaku demikian. Baik perilaku yang bersifat positif maupun negatif. Contohnya : si kecil tiba-tiba suka berkata kasar, si kecil mulai suka merusak tanaman, si kecil tiba-tiba membantu membersihkan rumah padahal biasanya tidak mau, atau si kecil tiba-tiba menabung.

 


Dalam benak kita tentu ada pertanyaan, “Dari mana Adik belajar perilaku seperti itu ya?” atau bahkan muncul kekhawatiran dan ketakutan bahwa si kecil akan menjadi anak yang bandel. Selain itu ketika kita mencoba merespon, yang terjadi lebih di luar ekspektasi kita. Perilaku bandel anak semakin menjadi-jadi atau perilaku baik anak tiba-tiba tidak lagi muncul. Mengapa demikian?

Untuk menjawab pertanyaan tadi, Bunda perlu memahami dari mana saja anak belajar mengenai perilaku tersebut. Dengan memahami sumber perilaku tersebut diharapkan mampu membantu kita untuk memilih respon yang tepat. Sehingga anak tidak menjadi tambah bandel atau perilaku baik anak bisa terus dilakukan.

Dari mana si Kecil Belajar?

1. Televisi dan Media Sosial

Seiring berkembangnya teknologi dan kemudahan menyebarkan informasi, media televisi dan media sosial menjadi salah satu sumber belajar anak, terutama Youtube. Kemudahan dalam mengakses, konten yang semakin atraktif, beragam jenis konten, dan komunitas yang luas menjadikan Youtube sebagai salah satu media anak belajar dan memuaskan rasa ingin tahunya. Ketika anak melihat konten yang dianggapnya menarik dan keren, anak akan mulai menirukan beberapa perilaku idolanya.

Contohnya ketika idolanya bermain game tertentu, anak menjadi tertarik atau ketika idolanya mengucap kata tertentu untuk berekspresi, anak juga mengikuti. Atau beberapa yang lalu kita sering melihat anak-anak yang mengikuti tren prank-prank sederhana, seperti “hai tayo”, “om telolet om” dan sebagainya.

Yang menjadi catatan dari periaku anak yang demikian cenderung bersifat sementara. Anak cenderung mengharapkan orang lain memberikan respon yang sama ketika ia merespon idolanya berperilaku tertentu. Misal idolanya sering berkata mengumpat ketika kalah main game, terus si anak tersebut muncul rasa "hoo lucu yaa, kalah tetapi mengumpat tidak jelas begitu". nah si anak akhirnya meniru perilaku mengumpat ketika kalah. harapannya orang lain (yang mendengarkan dia melakukan itu) juga memiliki respon "hoo lucu ya anak ini, kalah tetapi mengumpat tidak jelas begitu". jadi anak mendapatkan penghargaan sesuai harapannya. Ketika respon itu tidak ia dapatkan, perilaku anak cenderung tidak bertahan lama.

2. Lingkungan

Selain di rumah, anak menghabiskan waktunya bermain dengan teman-temannya. Anak berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki berbagai macam sifat, kepribadian dan latar belakang. Selain itu kelompok bermain kadang memiliki standar nilai tertentu agar ia tetap bisa main dengan mereka. Yang nilai itu diturunkan menjadi perilaku dan dilakukan berulang-ulang.

Contohnya suatu kelompok bermain memiliki nilai-nilai berani. Yang mau main dengan kelompok itu harus memiliki sifat berani, yang tentu harus dibuktikan dengan perilaku. Misalnya mau bermain malam hari, tidak cengeng, kalau ada yang mengolok-olok tidak takut untuk membalas, dan lain sebagainya (bentuknya bergantung pada masing-masing kelompok bermain). Yang perilaku ini tentu saja akan di bawa ke lingkungan rumah. Seperti mulai mengomel/marah marah ketika ada hal yang tidak sesuai harapannya, sering berkelahi dengan kakaknya, atau tiba-tiba memanjat dinding dan pagar (yang tentu saja berbahaya dan membuat was-was orang tua).

Perilaku yang muncul dari lingkungan pertemanan cenderung sulit untuk hilang dari anak, baik yang bersifat positif (seperti setia kawan, rela menolong, dan empati) maupun yang negatif. Terlebih bagi anak yang menganggap lingkungan pertemanan lebih menyenangkan daripada lingkungan rumah.

3. Lembaga pendidikan

Lembaga pendidikan tidak hanya mengajarkan hal-hal terkait akademis, melainkan juga mengajarkan tentang karakter. Tentu ada banyak sekali perilaku-perilaku yang akan dipelajari oleh anak di lembaga pendidikan, baik di sekolah (sebagai lembaga pendidikan formal) maupun di tempat kursus dan di tempat mengaji (sebagai lembaga pendidikan non formal).

Nilai-nilai dan perilaku yang diajarkan di lembaga pendidikan cenderung bersifat positif. Namun keberlangsungan atau praktek perilaku tersebut bisa beragam tiap anak. Contoh ketika anak pertama mendapatkan materi tentang menabung, ia menerapkan perilaku menabung dalam jangka waktu yang lama. Bahkan setelah ia berhasil membeli mainan kesukaannya dari hasil tabungan, ia tetap menabung. Namun berbeda ketika anak kedua mendapatkan materi menabung, ia hanya sebentar dan bahkan sebelum tabungannya cukup sudah ia belanjakan. Faktor kesadaran menjadi penggerak utama perilaku anak. Semakin kuat kesadaran atas perilaku tersebut, semakin kuat ia menjalankan perilakunya.

Secara umum, tiga sumber tadi yang memungkinkan bagi anak untuk mempelajari perilaku-perilaku baru. Yang bahkan akan mengejutkan Bunda, karena Bunda tidak pernah mengajarkannya. Memahami sumber belajar anak membantu memahami sejauh mana perilaku tersebut akan berkembang, tetapi belum cukup untuk membantu menentukan respon yang tepat. Untuk upaya mereskpon perilaku anak akan penulis sampaikan pada bagian 2.

Bersambung ke bagian 2 (Klik untuk melanjutkan) 


Mera Viola

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berhadapan dengan Monster

Petani Kopi Bisa Apa

Pemula Tidak Bisa Membuat Makanan Lezat?